Namun seiring perubahan zaman, Likok Pulo tidak lagi berada dalam bentuk tradisionalnya sepenuhnya. Seni ini telah mengalami adaptasi untuk menyesuaikan diri dengan selera penonton masa kini. Irama dibuat lebih cepat, gerakan lebih dinamis, dan panggung dipoles dengan pencahayaan modern. Kendati berubah, ruh kebersamaan tetap terjaga. Justru modernisasi memberi ruang bagi generasi muda untuk kembali jatuh cinta pada seni ini. Kelompok-kelompok pemuda di pesisir kini mulai bereksperimen dengan improvisasi, menggabungkan pola gerak baru tanpa meninggalkan struktur dasar. Kreativitas ini menjadi bukti bahwa Likok Pulo bukan seni yang membeku, tetapi tradisi yang hidup.
Meski begitu, di balik perkembangan yang menggembirakan ini terdapat tantangan besar. Banyak generasi muda memilih merantau, meninggalkan kampung halaman untuk bekerja atau menempuh pendidikan di kota. Penyair tradisional—yang memegang peranan penting dalam menjaga keaslian syair—semakin berkurang. Syair asli Likok Pulo dikenal sulit, membutuhkan latihan panjang serta kemampuan bahasa yang tidak semua orang kuasai lagi. Jika tidak ada upaya serius untuk mendokumentasikan, mengajarkan, dan melestarikan syair maupun teknik dasarnya, modernisasi justru bisa mencabut akar tradisi.




















