Features

Komunikasi Laut dalam Gerak: Likok Pulo sebagai Bahasa Kebersamaan

×

Komunikasi Laut dalam Gerak: Likok Pulo sebagai Bahasa Kebersamaan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Tarian Likok Pulo.

Tak banyak yang menyadari bahwa Likok Pulo bukan hanya seni pertunjukan yang lahir dari masyarakat Pulau Aceh. Ia adalah bahasa kebersamaan, sebuah bentuk komunikasi sosial yang dibungkus dalam ritme, syair, dan gerak serentak. Di tengah kehidupan pesisir yang berhadapan langsung dengan lautan luas, masyarakat Pulau Aceh tumbuh dalam kesadaran mendalam bahwa bertahan hidup bukan perkara individu, melainkan hasil kerja kolektif. Setiap gelombang, setiap angin kencang, dan setiap ancaman badai mengajarkan bahwa manusia hanya sekuat jalinan kebersamaan di sekitarnya. Nilai inilah yang kemudian berakar kuat dalam Likok Pulo.

 

Perhatikan bagaimana para pemain mengunci posisi duduk. Mereka duduk rapat hingga bahu saling bersentuhan, menciptakan barisan yang solid. Gerakan yang mereka lakukan bukan gerakan bebas, tetapi rangkaian harmoni yang harus dijalankan dalam satu komando ritme. Satu orang terlambat, maka seluruh pola terpecah. Satu gerak meleset, dinamika menjadi timpang. Filosofinya tegas: seperti di laut, setiap orang harus seirama jika ingin selamat. Ketika perahu digoyang ombak, ketika jaring harus diangkat bersama, atau ketika ada kawan jatuh ke laut, kekompakan adalah harga mati. Karena itu, Likok Pulo bukan sekadar seni tari—dia adalah rekaman nilai sosial masyarakat pesisir yang sangat mengutamakan solidaritas.

Follow Berita Habanusantara.net lainnya di Google News
Features

Di berbagai pelosok Aceh, aktivitas menenun masih hidup dalam keheningan yang penuh nilai. Di ruang-ruang kecil yang diterangi cahaya alami, tangan-tangan perempuan—dan sebagian kecil laki-laki—menggerakkan alat tenun tradisional dengan ritme…

close