Di berbagai pelosok Aceh Besar, Pidie, Aceh Selatan, hingga Lhokseumawe, dentuman palu yang memukul besi masih bersahutan dari bengkel-bengkel kecil yang dipenuhi asap arang dan panasnya tungku. Di ruang kerja sederhana itu, para pandai besi bekerja dengan ketenangan yang lahir dari warisan keterampilan turun-temurun. Mereka bukan sekadar pengrajin yang membentuk logam, melainkan penjaga tradisi yang selama berabad-abad ikut membangun identitas Aceh. Dari tangan-tangan mereka, lahir rencong—benda yang memadukan nilai sejarah, seni, dan martabat.




















