Kerupuk Mulieng: Cita Rasa Tradisional yang Mengakar dalam Kehidupan Orang Pidie

Redaksi_HN
Ilustrasi
A-AA+A++

Di Kabupaten Pidie, pagi hari sering dimulai dengan aroma melinjo yang baru saja diangkat dari wajan panas. Di banyak kampung, tradisi membuat kerupuk mulieng masih terjaga kuat. Tampah-tampah bambu terlihat memenuhi halaman rumah warga, masing-masing berisi lembaran kerupuk yang dijemur hingga mencapai tingkat kering yang pas. Pemandangan sederhana ini tidak hanya menghadirkan nuansa khas pedesaan, tetapi juga menggambarkan denyut ekonomi rumahan yang menjadi sandaran hidup bagi banyak keluarga.

 

Kerupuk mulieng memiliki karakter yang sangat mudah dikenali: teksturnya renyah, rasanya gurih, dan warnanya putih kekuningan. Setiap gigitan menghadirkan aroma melinjo yang kuat, seolah membawa siapa pun kembali kepada suasana kampung halaman. Keistimewaan inilah yang membuat kerupuk mulieng bukan sekadar makanan ringan, tetapi juga identitas kuliner masyarakat Pidie. Bahkan, keberadaannya dipertegas lewat tugu aneuk mulieng—ikon daerah yang menjadi penanda betapa pentingnya kerupuk tradisional ini dalam budaya dan kebanggaan lokal.