Transformasi ini tentu membawa tantangan. Banyak pengrajin masih bekerja dengan sistem tradisional dan bergantung pada pesanan lokal. Pengetahuan tentang pemasaran digital, manajemen produk, hingga strategi branding masih terbatas. Padahal rencong memiliki potensi besar untuk menjadi ikon budaya dunia, sejajar dengan keris Jawa atau kris dari Malaysia. Pemerintah Aceh sebenarnya telah melakukan sejumlah langkah, seperti memberikan pelatihan kerajinan, mendorong festival budaya, dan mempromosikan rencong melalui kegiatan pariwisata. Namun, dukungan terhadap digitalisasi pemasaran, sertifikasi produk, dan penguatan identitas rencong sebagai brand Aceh masih perlu diperluas agar pengrajin dapat menembus pasar nasional dan internasional.




















