Proses membuat rencong tidak pernah menjadi hal yang mudah atau terburu-buru. Setiap tahapnya menuntut ketelitian sekaligus pemahaman mendalam terhadap karakter logam. Besi dipanaskan hingga merah menyala dalam tungku, lalu ditempa berulang-ulang untuk mendapatkan lekuk khas yang menjadi identitas rencong. Sedikit kesalahan dalam sudut atau lengkungan dapat merusak proporsi dan makna filosofisnya. Rencong bukan sekadar senjata; ia adalah karya budaya yang memiliki aturan estetik. Setelah bilah terbentuk sempurna, tahap berikutnya adalah pembuatan gagang. Bahan yang dipakai pun tidak sembarangan: kayu bertuah, tanduk kerbau, bahkan gading untuk kalangan bangsawan atau ritual tertentu. Setiap pilihan bahan memiliki nilai simbolik yang mencerminkan status pemiliknya.




















