Di banyak rumah di Aceh, pintu yang terbuka bukan sekadar akses keluar masuk, melainkan simbol kesediaan untuk menyambut siapa saja yang datang. Ada nilai yang diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi, nilai yang menjadi wajah keramahan masyarakat Aceh di mata dunia: Pemulia Jame, adat memuliakan tamu yang telah menjadi bagian penting dari identitas Tanah Rencong.
Tidak ada catatan pasti kapan tradisi ini lahir. Namun sejak masa kerajaan-kerajaan Aceh, penghormatan kepada tamu selalu ditempatkan sebagai cermin martabat. Kisah-kisah lama menyebutkan bagaimana tamu kerajaan disambut dengan tata upacara khas, dengan makanan terbaik dan pelayanan penuh hormat. Seiring waktu, nilai tersebut turun hingga ke rumah-rumah masyarakat desa dan kota, menjelma menjadi kebiasaan yang begitu melekat dalam kehidupan sehari-hari. Bagi orang Aceh, tamu bukan sekadar orang yang datang membawa langkah. Tamu adalah berkah, titipan Tuhan, sekaligus penghubung silaturahmi yang harus dijaga.




















