Habanusantara.net— Saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) berada dalam tekanan dalam sepekan terakhir. Berdasarkan data Stockbit, harga saham BRIS berada di level Rp1.595 per saham, turun Rp135 atau 7,80 persen dalam satu pekan.
Penurunan tersebut terjadi di tengah kinerja fundamental Bank Syariah Indonesia (BSI) yang justru mencatat pertumbuhan pada semester I 2026.
Data Foreign Activity Midday Stockbit Sekuritas pada 21 September 2026 menunjukkan transaksi investor asing mencatat foreign buy Rp1,45 triliun, sementara foreign sell mencapai Rp1,67 triliun. Dengan demikian, pasar mencatat net foreign sell Rp216,24 miliar.
Untuk saham BRIS sendiri, investor asing tercatat melakukan penjualan bersih sekitar Rp7,24 miliar, dengan volume sekitar 4,53 juta saham.
Baca Juga : BSI Gandeng MBC Gold Muhammadiyah, Perkuat Ekosistem Investasi Emas Syariah
Grafik Stockbit menunjukkan harga BRIS bergerak turun dari kisaran Rp1.700-an pada pertengahan September hingga berada di level Rp1.595 pada 21 September 2026.
Namun, tekanan harga tersebut terjadi ketika BSI membukukan kinerja keuangan yang tetap tumbuh.
BSI mencatat laba bersih Rp4,16 triliun pada semester I 2026, meningkat 11 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo mengatakan penguatan teknologi yang dilakukan perseroan dalam beberapa tahun terakhir mulai memberikan dampak terhadap pertumbuhan bisnis dan jumlah nasabah.
“Teknologi bukan lagi sekadar fungsi pendukung operasional. Bagi BSI, teknologi telah menjadi mesin pertumbuhan bisnis. Semakin baik pengalaman nasabah, semakin tinggi tingkat kepercayaan, semakin besar akuisisi nasabah, dan semakin luas peluang untuk mengembangkan seluruh ekosistem layanan keuangan syariah,” ujar Anggoro dalam konferensi pers, Jumat (21/8/2026) lalu.
Baca juga : BSI Jadi Bank Pertama di Indonesia Raih Sertifikasi ISO 27701:2025
Hingga Juni 2026, jumlah nasabah BSI mencapai 24,3 juta, tertinggi sepanjang sejarah perseroan. Sejak Mei 2026, setelah transformasi teknologi selesai, pertumbuhan nasabah disebut mencapai lebih dari 200 ribu per bulan.
Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 22 persen yoy menjadi Rp393 triliun. Dana murah atau CASA mencapai Rp238 triliun, terdiri dari tabungan Rp173 triliun dan giro Rp65,5 triliun.
Struktur pendanaan tersebut turut menekan Cost of Fund (CoF) menjadi 2,19 persen.
Pembiayaan juga tumbuh di berbagai segmen. Pembiayaan wholesale mencapai Rp95 triliun, ritel dan UMKM Rp55,83 triliun, serta pembiayaan konsumer Rp189,25 triliun. Sementara itu, NPF gross tercatat 1,80 persen dan NPF net 0,33 persen.
Pendapatan berbasis komisi atau Fee Based Income (FBI) juga meningkat 38,15 persen menjadi Rp4,1 triliun. Total aset BSI hingga Juni 2026 mencapai Rp464,5 triliun, tumbuh 16 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Data keuangan yang tampil di Stockbit juga menunjukkan laba bersih tahun berjalan pada kuartal II 2026 sekitar Rp1,956 triliun, dibandingkan Rp2,200 triliun pada kuartal I. Jika kedua angka kuartalan tersebut dijumlahkan, nilainya sekitar Rp4,156 triliun, sejalan dengan capaian laba semester I sebesar Rp4,16 triliun.
Di tengah pertumbuhan tersebut, bisnis emas turut menjadi salah satu penopang ekosistem BSI. Hingga Juni 2026, BSI memiliki 1,22 juta nasabah emas, termasuk 594,6 ribu nasabah cicil emas dan 209,7 ribu nasabah gadai emas.
BSI juga mencatat 7,69 juta nasabah haji dan lebih dari 585 ribu merchant QRIS.
Anggoro mengatakan fokus perusahaan ke depan bukan hanya mengejar pertumbuhan jumlah nasabah, tetapi meningkatkan nilai layanan yang diterima setiap nasabah melalui layanan digital yang semakin relevan dan terintegrasi.
Di pasar saham, sementara fundamental perusahaan menunjukkan pertumbuhan, BRIS masih menghadapi tekanan harga.
Data Stockbit menunjukkan volume perdagangan sekitar 13,2 juta saham, sementara rata-rata volumenya berada di kisaran 16,68 juta saham.
Dengan demikian, pergerakan BRIS saat ini memperlihatkan adanya perbedaan antara pertumbuhan kinerja bisnis BSI dan tekanan harga saham di pasar.
Penyebab spesifik penurunan harga BRIS tidak dapat disimpulkan hanya dari data tersebut dan masih perlu dilihat bersama faktor pasar, sentimen investor, serta perkembangan perdagangan berikutnya[***]

![Saham BRIS (Bank Syariah Indonesia) melemah 7,80 persen dalam sepekan dan berada di level Rp1.595 pada perdagangan 21 September 2026 [Foto/SC stokbit.com]](https://habanusantara.net/wp-content/uploads/2026/09/saham-BSI.png)



