Dinkes Ingatkan Bahaya Air Tercemar, Bisa Picu Diare dan Tingkatkan Risiko Stunting

Redaksi
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, Nurjannah, SKM., MKM
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, Nurjannah, SKM., MKM [Foto/Fira/Habanusantara.net
A-AA+A++

habanusantara.net – Penggunaan air yang tercemar tidak hanya berisiko menyebabkan penyakit saluran pencernaan, tetapi juga dapat memicu berbagai gangguan kesehatan lain, termasuk meningkatkan risiko stunting pada anak akibat infeksi yang terjadi berulang.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, Nurjannah, SKM., MKM, mengatakan air yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari harus dijaga kualitasnya karena berkaitan langsung dengan kesehatan keluarga.

Menurutnya, penggunaan air yang tidak bersih dapat menyebabkan diare dan muntaber, tifoid atau demam tifus, hingga hepatitis A. Air tercemar juga berpotensi menimbulkan penyakit kulit dan infeksi mata.

“Penggunaan air yang tercemar dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan,” kata Nurjannah, Senin (21/9/2026).

Ia menambahkan, dampak penggunaan air yang tidak layak juga perlu menjadi perhatian pada anak. Infeksi yang terjadi berulang dapat meningkatkan risiko stunting, sehingga menjaga kualitas air menjadi salah satu bagian penting dalam pencegahan penyakit di tingkat keluarga.

Untuk mencegah berbagai risiko tersebut, Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh terus mengedukasi masyarakat melalui penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Edukasi dilakukan melalui penyuluhan oleh tenaga kesehatan di puskesmas dan Posyandu, serta kampanye Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) di sekolah dan gampong.

Selain itu, Dinas Kesehatan memberikan pelatihan dan pembinaan kepada kader kesehatan agar dapat menjadi agen perubahan perilaku di tengah masyarakat.

Informasi mengenai PHBS juga disebarluaskan melalui berbagai media komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE), seperti media sosial, poster, leaflet, serta kegiatan masyarakat.

Upaya tersebut dilakukan bersama pemerintah gampong, sekolah, dan lintas sektor agar edukasi mengenai PHBS dapat menjangkau lebih banyak masyarakat dan menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.[***]