Di Aceh Barat, Tari Pho hadir sebagai gambaran bagaimana sebuah tradisi mampu terus hidup sekaligus bertransformasi. Sekilas, tarian ini tampak seperti permainan riang yang dibawakan anak-anak—geraknya lincah, iramanya ringan, dan suasananya seolah penuh tawa. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, Tari Pho menyimpan kisah masa lampau yang tak seterang langkah para penarinya saat ini.
Pada mulanya, tarian ini bukanlah sekadar hiburan. Ia lahir dari situasi penuh kesedihan, ketika masyarakat mengekspresikan doa, kerinduan, dan ketabahan melalui gerak sederhana dan nyanyian lirih. Dari sanalah Tari Pho mendapatkan makna terdalamnya: kesenian sebagai ruang untuk merawat luka sekaligus memanggil harapan.
Seiring waktu, makna duka itu perlahan bergeser menjadi ekspresi kegembiraan. Tradisi ini berkembang mengikuti perubahan zaman, hingga menjadi pertunjukan yang akrab terlihat dalam berbagai acara rakyat. Meski tampil lebih ceria, Tari Pho tetap membawa ruh masa lalunya—mengingatkan bahwa kebudayaan Aceh selalu memadukan daya tahan, ingatan sejarah, dan semangat hidup.




















