Di sebuah rumah sederhana di pinggiran Banda Aceh, suara gesekan jarum dengan kain terdengar berulang, ritmis, seperti lagu lama yang dinyanyikan pelan. Di ruangan itu, seorang pria paruh baya, Umar, duduk dengan khusyuk menyulam benang warna-warni pada sebuah kupiah yang hampir selesai. Tangannya cekatan, namun wajahnya tenang, seakan setiap gerakan memiliki makna spiritual. Umar adalah satu dari sedikit perajin kupiah meukeutop yang masih bertahan dengan cara tradisional.
Pekerjaan membuat kupiah meukeutop bagi Umar bukan sekadar mata pencaharian. Ia adalah warisan keluarga yang telah ditekuni sejak generasi kakeknya. “Kalau saya buat, harus sempurna. Tidak boleh ada salah sedikit pun, karena kupiah ini tidak hanya dipakai, tapi dihargai,” ujarnya sambil tersenyum. Kalimat itu menggambarkan dengan jelas bahwa kupiah bukan sekadar produk, melainkan karya seni bernilai tinggi.




















