FeaturesWisata

Dari Benang hingga Mahakarya: Kisah Perajin Kupiah Meukeutop di Aceh

×

Dari Benang hingga Mahakarya: Kisah Perajin Kupiah Meukeutop di Aceh

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi

Meski demikian, keuntungan finansial bukan satu-satunya kebahagiaan bagi Umar. Kebanggaan melihat kupiah karyanya dipakai dalam acara adat atau dibawa sebagai oleh-oleh ke luar negeri menjadi kebahagiaan tersendiri. Ia merasa menjadi bagian dari perjalanan budaya Aceh yang tidak pernah berhenti berjalan. Kupiah yang ia buat bukan sekadar benda, tetapi jejak tradisi yang hidup.

 

Kisah seperti Umar membuktikan bahwa warisan budaya bukan hanya soal sejarah, tetapi juga kehidupan. Selama masih ada tangan yang mau merajut, menata, dan menyulam benang dengan cinta—kupiah meukeutop tidak akan pernah hilang. Ia akan terus menjadi mahakarya Aceh yang lahir dari ketekunan, kesabaran, dan cinta perajin kepada tradisinya.(Adv)

Follow Berita Habanusantara.net lainnya di Google News
Wisata

Dalam berbagai festival kuliner Aceh, Timphan selalu menjadi salah satu sajian yang dipamerkan. Pemerhati budaya dan komunitas kuliner turut mendorong generasi muda untuk terus melestarikannya. Bagi mereka, menjaga Timphan berarti…

Wisata

Upaya pelestarian ini menjadi bukti bahwa bahasa Aceh masih memiliki ruang hidup yang luas di hati masyarakat. Sekolah-sekolah di Aceh juga mulai mengintegrasikan pelajaran bahasa daerah sebagai bagian dari kurikulum…

close