Meski demikian, keuntungan finansial bukan satu-satunya kebahagiaan bagi Umar. Kebanggaan melihat kupiah karyanya dipakai dalam acara adat atau dibawa sebagai oleh-oleh ke luar negeri menjadi kebahagiaan tersendiri. Ia merasa menjadi bagian dari perjalanan budaya Aceh yang tidak pernah berhenti berjalan. Kupiah yang ia buat bukan sekadar benda, tetapi jejak tradisi yang hidup.
Kisah seperti Umar membuktikan bahwa warisan budaya bukan hanya soal sejarah, tetapi juga kehidupan. Selama masih ada tangan yang mau merajut, menata, dan menyulam benang dengan cinta—kupiah meukeutop tidak akan pernah hilang. Ia akan terus menjadi mahakarya Aceh yang lahir dari ketekunan, kesabaran, dan cinta perajin kepada tradisinya.(Adv)




















