Di dataran tinggi Gayo, ketika kabut pagi masih menggantung di antara pepohonan kopi, kehidupan masyarakat menyelinap dalam ritme yang seolah selaras dengan alam. Dari tanah yang sejuk ini, sebuah kesenian tumbuh dengan cara yang sederhana, tetapi memiliki kekuatan luar biasa: Didong. Bukan sekadar seni suara. Bukan pula sekadar hiburan. Didong adalah ekspresi jiwa, alat untuk menyampaikan pesan, sekaligus ruang identitas bagi masyarakat Gayo.
Didong lahir dari kehidupan sosial masyarakat Gayo yang religius, komunal, dan sangat menjunjung musyawarah. Dalam sejarahnya, kesenian ini berfungsi sebagai media dakwah, penyampai pesan adat, hingga alat pendidikan moral. Lazimnya, Didong dimainkan oleh sekelompok pria yang duduk berbaris sambil menyanyikan syair-syair yang penuh nilai, diiringi pukulan ritmis telapak tangan ke bantal kecil (gembol) yang diletakkan di paha. Suara pukulan itu menjadi beat khas yang membuat Didong berbeda dari kesenian tutur lain.




















