Pertunjukan Didong biasanya berlangsung dalam suasana yang hangat. Lampu petromaks menggantung, masyarakat berkumpul melingkar, dan malam mulai larut ketika suara suluk dilantunkan. Suluk—pembukaan syair dalam Didong—merupakan bagian reflektif dan sakral. Di momen ini, para cik (pemimpin kelompok Didong) membawa pendengar dalam suasana kontemplatif, menyebut nama Allah, menyampaikan salam, atau berpantun tentang nilai-nilai kehidupan.
Dalam satu malam penuh, pertunjukan Didong bisa berlangsung hingga lima atau enam jam. Kadang lebih. Dua kelompok Didong saling berbalas syair, adu kreativitas, adu kecerdasan, sekaligus adu kekompakan ritme. Sifat kompetitif inilah yang menjadikan Didong bukan hanya hiburan, tetapi juga ajang unjuk kemampuan intelektual.




















