FeaturesWisata

Didong: Harmoni Suara dari Dataran Tinggi Gayo yang Tak Pernah Padam

×

Didong: Harmoni Suara dari Dataran Tinggi Gayo yang Tak Pernah Padam

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi.

Pertunjukan Didong biasanya berlangsung dalam suasana yang hangat. Lampu petromaks menggantung, masyarakat berkumpul melingkar, dan malam mulai larut ketika suara suluk dilantunkan. Suluk—pembukaan syair dalam Didong—merupakan bagian reflektif dan sakral. Di momen ini, para cik (pemimpin kelompok Didong) membawa pendengar dalam suasana kontemplatif, menyebut nama Allah, menyampaikan salam, atau berpantun tentang nilai-nilai kehidupan.

 

Dalam satu malam penuh, pertunjukan Didong bisa berlangsung hingga lima atau enam jam. Kadang lebih. Dua kelompok Didong saling berbalas syair, adu kreativitas, adu kecerdasan, sekaligus adu kekompakan ritme. Sifat kompetitif inilah yang menjadikan Didong bukan hanya hiburan, tetapi juga ajang unjuk kemampuan intelektual.

 

Follow Berita Habanusantara.net lainnya di Google News
Wisata

Proses pembuatan Timphan bukan sekadar rutinitas memasak. Ia lebih mirip ritual keluarga. Para perempuan, terutama ibu dan nenek, berkumpul sejak pagi untuk menyiapkan bahan-bahan segar. Tepung ketan dicampur dengan pisang…

Wisata

  Bahasa Aceh juga menyimpan kekayaan struktur dan ragam dialek yang menunjukkan luasnya wilayah persebaran masyarakat Aceh. Dialek Aceh Utara dengan pelafalan yang tegas, dialek Aceh Barat yang lembut, serta…

close