Kekuatan Didong tidak terletak pada gemerlapnya panggung, tetapi pada kedalaman maknanya. Ia tumbuh dari tanah dingin Gayo, hidup dalam syair yang mengalir dari generasi ke generasi, dan memberi ruang bagi masyarakatnya untuk selalu merasa terhubung—baik dengan nilai adat, agama, maupun akar budaya mereka.
Di balik setiap syair Didong, tersembunyi suara pegunungan yang tenang, aroma kopi yang harum, serta kebijaksanaan masyarakat yang selalu memandang hidup dengan hati yang lapang. Didong bukan hanya seni. Ia adalah identitas yang hidup dalam setiap denyut budaya Gayo.(Adv)




















