Masuk ke sebuah acara adat di Aceh tanpa kehadiran rapai seolah menyaksikan sebuah tarian tanpa ritme. Suara hentakan yang khas itu bukan sekadar musik pengiring; ia adalah elemen identitas yang menyatakan bahwa setiap momen di Aceh memiliki wajah budaya sendiri. Ketika bunyinya menggema dengan tempo yang teratur, suasana berubah menjadi lebih hidup, penuh energi, serta menghadirkan rasa bermartabat. Rapai menjadi semacam salam perkenalan yang menandai bahwa perayaan ini bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari sejarah panjang masyarakat Aceh.




















