Identitas Aceh bukan hanya tercermin dari catatan sejarah tentang kepahlawanan, bentuk masjid yang megah, atau cita rasa kuliner yang dikenal luas. Ada wujud identitas yang tumbuh dalam kesadaran kolektif, tertanam bukan melalui tulisan, melainkan melalui rasa—dan rapai mengisi ruang tersebut. Setiap pukulan rapai membawa narasi simbolik tentang keberanian, kebersatuan, dan kebanggaan kolektif sebagai bangsa yang mempertahankan nilai kulturalnya. Dalam pesta adat seperti pernikahan, rapai tidak sekadar menghibur, tetapi menjadi tanda keagungan tradisi. Penyatuan dua keluarga dianggap sakral bukan hanya karena ibadah di dalamnya, tetapi juga karena ia dibalut penghormatan terhadap budaya.




















