Ketika rapai dimainkan di ruang publik, ia langsung memantik rasa memiliki. Anak-anak yang mendengarnya mungkin terpesona pada bunyi keras dan ritmenya yang cepat, sementara orang tua sering tampak memejamkan mata, seolah menghidupkan kembali kenangan masa kecil mereka. Rapai membangkitkan memori sosial, menghubungkan generasi yang hidup pada masa berbeda dalam satu ruang rasa yang sama. Di tengah derasnya globalisasi yang cenderung menyeragamkan budaya, rapai menjadi pernyataan kuat bahwa Aceh memilih untuk tidak kehilangan jati dirinya.




















