Walaupun aturan tersebut kini tidak lagi diberlakukan, penghormatan terhadap motif tetap bertahan kuat. Masyarakat Aceh masih memandang bahwa setiap motif adalah cerminan karakter dan etika. Songket dianggap bukan hanya benda seni, tetapi karya yang memiliki “ruh adat”. Karena itulah proses pembuatannya tidak bisa dikerjakan terburu-buru. Setiap helai benang, setiap pola, dan setiap simpul mengandung makna yang harus dijaga.
Proses pembuatan songket Aceh dikenal panjang dan membutuhkan kesabaran tinggi. Untuk menghasilkan satu lembar kain, seorang penenun bisa menghabiskan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Tahapannya berlapis: memilih kualitas benang terbaik, merancang pola dasar, mengikat motif, lalu menenun menggunakan teknik khusus. Penggunaan alat tenun tradisional membuat seluruh proses membutuhkan ketelitian ekstrem. Kesalahan kecil dalam pengaitan benang dapat merusak keseluruhan motif. Karena itu, songket tidak hanya menjadi hasil kerja keras, tetapi wujud pengabdian kepada tradisi.




















