Habanusantara.net – Di tepi pantai yang menghadap luasnya Samudra Hindia, ada sebuah titik yang bukan sekadar tempat berwisata. Di sana berdiri sebuah monumen yang menyimpan jejak perjuangan dan kemuliaan sejarah Aceh: Tugu Kupiah Meukeutop Teuku Umar. Letaknya berada di kawasan Batu Putih, Desa Ujong Kalak, Kecamatan Johan Pahlawan, Meulaboh, Aceh Barat. Lokasi yang kini ramai dikunjungi wisatawan ini dulunya merupakan saksi sebuah peristiwa besar—tempat gugurnya sang Pahlawan Nasional, Teuku Umar.
Tidak hanya sebagai destinasi wisata, tugu ini menjadi penanda sejarah bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia tak lahir dari kemenangan instan, melainkan dari darah, air mata, dan keyakinan yang teguh terhadap kehormatan tanah air. Kupiah Meukeutop—penutup kepala khas Aceh yang menjadi simbol monumen ini—melambangkan wibawa, kepemimpinan, dan keberanian. Di tangan Teuku Umar, kupiah tersebut bukan hanya atribut budaya, tetapi simbol perlawanan terhadap kolonialisme Belanda dalam Perang Aceh yang berlangsung puluhan tahun.
Monumen ini dipercaya sebagai lokasi wafatnya Teuku Umar pada tahun 1899 dalam sebuah pertempuran sengit melawan pasukan Belanda. Ia gugur setelah dikepung dalam strategi perang yang tak seimbang, namun hingga akhir hidupnya, ia memilih tegak dalam keyakinan bahwa harga diri bangsa jauh lebih berharga daripada nyawa sekalipun.




















