Namun harapan masih ada. Di beberapa daerah, komunitas budaya mulai menggerakkan program pelestarian kerajinan rotan. Beberapa kampus seni bahkan menjadikan kupiah riman sebagai objek penelitian desain etnik modern. Ini membuka kemungkinan baru: kupiah riman bisa tetap hidup, sambil tetap menjunjung filosofi lamanya.
Kupiah riman adalah pelajaran bahwa keanggunan tidak selalu datang dari kemewahan. Martabat laki-laki Aceh bukan terletak pada pakaian yang ramai, tetapi pada ilmu dan akhlak yang ia bawa. Selama nilai itu masih dijaga, kupiah riman tidak akan pernah hilang. Ia akan tetap menjadi mahkota kesederhanaan yang menjaga kehormatan orang Aceh.(Adv)




















