Proses pembuatannya memerlukan kesabaran luar biasa. Tidak seperti kupiah berbahan kain yang dijahit dengan mesin, kupiah riman dihasilkan dari anyaman tangan. Seutas rotan kecil harus diraut tipis hingga menyerupai benang keras, kemudian dianyam satu-persatu hingga menjadi bentuk kupiah yang sempurna. Setiap lekukan anyaman menyimpan waktu, ketelitian, serta kesungguhan pengrajinnya.
“Kalau orang tidak sabar, dia tidak akan bisa menyelesaikan satu kupiah,” ujar seorang pengrajin tua dalam sebuah wawancara kebudayaan. Perkataan itu bukan hanya gambaran teknis. Ia adalah cermin dari filosofi kerja orang Aceh: pekerjaan baik harus dilakukan dengan hati, bukan sekadar mengejar hasil. Dengan cara itu, kupiah riman menjadi simbol pendidikan karakter, bukan hanya kerajinan tangan.




















