Meski demikian, era modern membawa tantangan serius. Banyak anak muda mengenal kupiah riman hanya sebagai barang kerajinan. Mereka membelinya untuk suvenir, hiasan dinding, atau koleksi pernak-pernik tradisional. Padahal benda itu bukan dibuat untuk dipandang saja, tetapi untuk hidup. Ia harus berada di kepala, agar nilai yang terkandung di dalamnya juga hadir dalam perilaku masyarakat.
Pengrajin kupiah riman tidak hanya kehilangan pembeli, tetapi juga kehilangan generasi penerus. Bila ilmu menganyam tidak diwariskan, suatu hari kupiah riman akan berhenti pada etalase museum. Kita akan mengenangnya seperti artefak sejarah, bukan identitas hidup.




















