Penggunaan kupiah riman juga memiliki etika. Ia tidak sembarangan dipakai oleh siapapun. Walaupun tidak ada larangan tertulis, masyarakat memiliki rasa malu bila mengenakan kupiah ini tanpa dasar ilmu atau keteladanan. Dengan kata lain, kupiah riman bukan simbol “status materi”, melainkan simbol moral. Pemakainya dihormati bukan karena kupiahnya, tetapi karena hidupnya mencerminkan nilai kupiah itu sendiri.
Dalam sejumlah upacara adat, kupiah riman sering menjadi hadiah penghormatan bagi seseorang yang dianggap berkontribusi terhadap ilmu agama atau kehidupan sosial. Ini mirip dengan tradisi pemberian sorban atau tongkat kepada alim ulama. Memberikan kupiah riman berarti mengakui bahwa seseorang layak disegani, bukan dilayani.




















