Namun Khanduri Laot bukan hanya tentang doa dan makanan. Di balik upacara itu tersimpan aturan adat yang menjaga keberlanjutan laut. Setelah kenduri, panglima laot biasanya mengumumkan masa penutupan melaut—periode tertentu di mana nelayan dilarang menangkap ikan. Aturan ini dianggap sebagai waktu istirahat bagi laut. Masyarakat percaya bahwa jika laut dipaksa terus-menerus, ia akan murka: badai datang tanpa tanda, ikan menjauh, dan rezeki menghilang. Kepercayaan ini sejalan dengan prinsip konservasi modern: ekosistem perlu jeda agar tetap sehat.
Selain itu, hukum adat laot yang diperkuat melalui Khanduri Laot juga melarang penggunaan alat tangkap merusak, mengatur zona penangkapan, serta melindungi kawasan tertentu seperti karang, batu karambau, atau lokasi yang dianggap keramat. Menariknya, semua ini dilakukan jauh sebelum dunia mengenal istilah sustainability atau pengelolaan sumber daya berbasis ekosistem. Kearifan lokal telah mengajarkan masyarakat pesisir Aceh tentang pentingnya keseimbangan antara mengambil rezeki dan menjaga alam.




















