FeaturesWisata

Khanduri Laot: Doa yang Memagari Laut Aceh

×

Khanduri Laot: Doa yang Memagari Laut Aceh

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Khanduri Laot.

Namun Khanduri Laot bukan hanya tentang doa dan makanan. Di balik upacara itu tersimpan aturan adat yang menjaga keberlanjutan laut. Setelah kenduri, panglima laot biasanya mengumumkan masa penutupan melaut—periode tertentu di mana nelayan dilarang menangkap ikan. Aturan ini dianggap sebagai waktu istirahat bagi laut. Masyarakat percaya bahwa jika laut dipaksa terus-menerus, ia akan murka: badai datang tanpa tanda, ikan menjauh, dan rezeki menghilang. Kepercayaan ini sejalan dengan prinsip konservasi modern: ekosistem perlu jeda agar tetap sehat.

Ilustrasi Khanduri Laot.

Selain itu, hukum adat laot yang diperkuat melalui Khanduri Laot juga melarang penggunaan alat tangkap merusak, mengatur zona penangkapan, serta melindungi kawasan tertentu seperti karang, batu karambau, atau lokasi yang dianggap keramat. Menariknya, semua ini dilakukan jauh sebelum dunia mengenal istilah sustainability atau pengelolaan sumber daya berbasis ekosistem. Kearifan lokal telah mengajarkan masyarakat pesisir Aceh tentang pentingnya keseimbangan antara mengambil rezeki dan menjaga alam.

Follow Berita Habanusantara.net lainnya di Google News
Wisata

Timphan selalu hadir ketika keluarga besar berkumpul. Saat hari raya tiba, para tetamu yang datang dari berbagai penjuru Aceh—bahkan dari luar daerah—akan selalu menanyakan apakah Timphan sudah tersedia. Makanan ini…

Wisata

Kehadiran para tetangga dan kerabat menjadi inti dari ritual ini. Meski terlihat sederhana, Seumapa memiliki makna sosial yang sangat dalam. Ia memperkuat jaringan persaudaraan, mempererat hubungan antarwarga, sekaligus membentuk rasa…

Wisata

Dalam ranah adat, bahasa Aceh menjadi medium utama penyampaian nilai dan norma. Setiap prosesi adat, mulai dari peusijuek, kenduri, hingga upacara pernikahan, selalu dihiasi doa, petuah, dan syair yang disampaikan…

close