Di sepanjang pantai Aceh, ketika pagi masih dibalut sisa embun dan angin laut bertiup perlahan, sekelompok nelayan berkumpul dalam suasana yang berbeda dari hari-hari biasa. Tidak ada jaring di tangan mereka, tidak ada perahu yang siap didorong ke ombak. Hari itu bukan hari mencari rezeki, melainkan hari bersyukur. Mereka datang untuk melaksanakan Khanduri Laot, sebuah tradisi sakral yang diwariskan dari generasi ke generasi nelayan Aceh. Lebih dari sekadar ritual adat, Khanduri Laot menjadi wujud hubungan spiritual yang mendalam antara manusia, laut, dan Sang Pencipta.
Suasana sakral terasa sejak hewan kenduri—kerbau atau kambing—dibawa ke tepi pantai. Hewan ini tidak dipilih sembarangan. Ia harus sehat, cukup umur, dan yang paling penting, disetujui oleh panglima laot, pemimpin adat laut yang dihormati masyarakat pesisir. Setelah pembacaan doa, hewan tersebut disembelih dengan tata cara adat. Kepala hewan kemudian dikuburkan di pasir pantai. Simbol sederhana namun penuh makna: ungkapan syukur atas rezeki dari laut, sekaligus permohonan keselamatan bagi siapa pun yang akan kembali menembus gelombang.




















