Salah satu inti penting Khanduri Jrat adalah doa arwah. Seorang teungku memimpin bacaan tahlil, yasin, dan doa khusus untuk para leluhur. Seluruh keluarga mengikuti dengan khusyuk. Doa-doa itu menjadi bentuk permohonan agar amal ibadah para orang tua diterima dan diberi tempat terbaik di sisi Allah. Dalam suasana haru dan syahdu inilah terlihat bagaimana masyarakat Aceh memandang hubungan dengan saudara yang telah wafat sebagai sesuatu yang tak pernah terputus.
Setelah doa rampung, hidangan kenduri dibagikan. Makan bersama menjadi simbol kebersamaan dan rasa syukur. Tidak ada batasan antara tua dan muda; semua duduk melingkar, menikmati sajian yang telah disiapkan bersama. Tradisi makan kenduri ini tidak hanya memupuk rasa kekeluargaan, tetapi juga melestarikan kuliner khas Aceh yang selama ini menjadi bagian integral dari identitas budaya.




















