Tantangan lain datang dari perubahan gaya hidup. Banyak keluarga kini tidak lagi tinggal dalam rumah besar yang dihuni tiga generasi. Ketika nenek dan ibu tidak lagi tinggal bersama, momen berbagi pengetahuan tradisional seperti Do Da Idi ikut berkurang. Dulu, seorang ibu muda bisa belajar nyanyian itu langsung dari ibunya atau neneknya. Kini, ia harus mencari sendiri, padahal sumbernya semakin sedikit.
Kendati demikian, upaya pelestarian mulai bermunculan. Sejumlah komunitas budaya Aceh mulai mengumpulkan dan mendokumentasikan berbagai versi Do Da Idi agar bisa menjadi referensi generasi berikutnya. Ada juga seniman yang mencoba mengaransemen ulang nyanyian ini tanpa menghilangkan ruh aslinya. Di beberapa daerah, sekolah dan sanggar seni mengajarkan Do Da Idi sebagai bagian dari pendidikan budaya lokal.




















