Di masa kini, keberadaan rumoh Aceh menghadapi banyak tantangan. Urbanisasi mempercepat perubahan pola hunian, sementara ketersediaan kayu berkualitas kian menipis. Rumah panggung yang dulu menjadi pemandangan umum kini semakin jarang terlihat, bahkan beberapa di antaranya dibiarkan kosong dan lapuk. Namun situasinya tidak sepenuhnya suram. Di sejumlah daerah, terutama di Aceh Besar dan Pidie Jaya, masyarakat mulai menata ulang identitas budaya dengan merawat rumah adat warisan keluarga. Beberapa komunitas bahkan mengusulkan rumoh Aceh sebagai warisan budaya tak benda tingkat nasional, mengingat teknik pembangunannya yang unik serta filosofi hidup yang terkandung di dalamnya.
Upaya pelestarian juga terlihat dalam gerakan anak muda Aceh yang mulai mengangkat kembali nilai arsitektur tradisional melalui dokumentasi digital, tur budaya, hingga kolaborasi dengan arsitek modern. Desainer kontemporer kini memadukan unsur rumoh Aceh ke dalam bangunan baru: penggunaan ventilasi silang, konsep rumah panggung, hingga penataan ruang berbasis nilai sosial. Walau tampil dengan wajah modern, jiwa rumoh Aceh tetap dipertahankan—sebuah bukti bahwa tradisi dapat tumbuh berdampingan dengan perkembangan zaman.




















