Di balik pepohonan kelapa dan hamparan sawah yang membentang di wilayah Aceh Besar, Pidie, hingga Aceh Utara, berdirilah sebuah jejak budaya yang bertahan melampaui pergantian zaman. Rumoh Aceh—rumah adat khas Tanah Rencong—menjadi saksi bagaimana masyarakat Aceh menyelaraskan kehidupan dengan alam, adat, dan nilai-nilai spiritual. Meski kini keberadaannya kian bergeser oleh bangunan berarsitektur modern, rumah panggung tradisional ini tetap memancarkan wibawa sebagai sebuah konstruksi yang dirancang dengan kecermatan dan kearifan lokal yang mendalam.
Desain rumoh Aceh tidak lahir dari kebetulan. Struktur panggung yang menjadi ciri utama merupakan hasil adaptasi leluhur Aceh terhadap lingkungan yang lembap dan sering tergenang banjir. Lantai yang ditinggikan menjaga kayu tetap awet, menciptakan sirkulasi udara yang baik, sekaligus mengantisipasi ancaman binatang liar pada masa lalu. Dengan demikian, setiap bagian rumah tidak hanya berfungsi sebagai elemen fisik, tetapi sebagai ungkapan kecerdasan arsitektur tradisional.




















