Salah satu kekuatan rumoh Aceh terletak pada konstruksi kayu tanpa paku. Teknik pasak dan sambungan tradisional membuat rumah ini lentur dan justru lebih tahan terhadap guncangan gempa. Nilai ekologisnya pun kuat: bahan-bahan lokal seperti kayu nangka, merbau, kelapa, dan rumbia digunakan bukan hanya karena ketersediaannya, tetapi karena masing-masing memiliki peran khusus. Kayu nangka misalnya digunakan untuk tiang utama karena tahan rayap dan diyakini membawa energi baik bagi penghuni rumah.
Lebih dari aspek fisik, rumoh Aceh sarat simbolisme. Orientasi bangunan hampir selalu menghadap ke timur atau barat, mengikuti arah matahari terbit dan terbenam yang melambangkan perjalanan hidup. Jumlah anak tangga biasanya ganjil, menandakan kesempurnaan dalam tradisi Aceh dan Islam. Bahkan ukiran-ukiran pada bagian dinding ataupun pelipit tidak dibuat sembarangan—motif seperti bungong meulu, bungong kayee, hingga pucok reubong menggambarkan doa, harapan, dan kedekatan Aceh dengan nilai-nilai ketauhidan.




















