Di pesisir dan pedalaman Aceh Selatan, dua bahasa lokal tumbuh sebagai penanda sejarah panjang interaksi manusia dan budaya: Bahasa Jamee dan Bahasa Kluet. Keduanya bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cermin identitas yang merekam perjalanan diaspora, pertemuan etnis, serta dinamika kehidupan masyarakat Aceh dari masa ke masa.
Di wilayah pesisir, Bahasa Jamee hadir sebagai jejak kuat para perantau Minangkabau yang bermukim dan berbaur dengan masyarakat setempat sejak ratusan tahun lalu. Perpaduan unsur Aceh dan Minang kemudian melahirkan ragam tutur yang khas—lebih lembut, ritmis, dan sarat ungkapan kekerabatan yang masih terasa hingga hari ini. Bahasa ini bukan hanya diwariskan oleh keluarga-keluarga tua, tetapi juga terus digunakan dalam aktivitas sehari-hari, mulai dari pasar, pertemuan adat, hingga percakapan ringan di halaman rumah.
Sementara itu, di kawasan lembah dan pegunungan Aceh Selatan, Bahasa Kluet tumbuh sebagai simbol kehalusan budi dan karakter masyarakat pedalaman. Struktur bahasanya yang unik, dengan intonasi tenang dan kosakata khas pegunungan, mencerminkan keterikatan orang Kluet dengan alam dan tradisi leluhur. Bahasa ini juga berfungsi sebagai ruang ingatan kolektif—menyimpan cerita rakyat, petuah adat, serta pengetahuan lingkungan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.




















