Dari perspektif sosial, kedua bahasa ini menyimpan narasi panjang percampuran dan adaptasi budaya. Bahasa Jamee mencerminkan relasi harmonis antara masyarakat Aceh dan Minangkabau, yang terlihat dalam adat, kuliner, hingga ungkapan-ungkapan kekeluargaan. Sementara Bahasa Kluet menjadi bukti bahwa kehidupan pedalaman pun memiliki dinamika interaksi yang kaya, dengan struktur tutur yang mencerminkan kepekaan dan kesantunan yang dijunjung tinggi.
Namun seperti bahasa daerah lainnya, keduanya menghadapi tantangan besar di era modern. Urbanisasi, digitalisasi, dan dominasi bahasa Indonesia menyebabkan generasi muda semakin jarang menggunakan bahasa lokal dalam percakapan sehari-hari. Di beberapa tempat, Bahasa Jamee dan Bahasa Kluet mulai beralih fungsi menjadi bahasa orang tua, menciptakan kekhawatiran akan hilangnya kemampuan bertutur di masa depan.




















