Keberadaan kedua bahasa ini memperkaya mosaik kebudayaan Aceh dan menegaskan bahwa keragaman telah lama menjadi bagian dari denyut sosial wilayah ini. Di tengah arus modernisasi dan dominasi bahasa nasional, Bahasa Jamee dan Bahasa Kluet tetap bertahan sebagai bukti bahwa identitas lokal selalu menemukan cara untuk hidup, berkembang, dan mengakar kuat di hati masyarakatnya.
Bahasa Jamee berakar dari tradisi merantau orang Minangkabau. Sejak berabad-abad lalu, para perantau menetap di sepanjang pesisir Aceh Selatan untuk berdagang, berkeluarga, dan membangun komunitas. Proses panjang itu melahirkan dialek hybrid yang kini dikenal sebagai Bahasa Jamee — bahasa yang memadukan struktur Minangkabau dengan unsur kosakata Aceh, menciptakan identitas linguistik yang khas dan berakar kuat. Ritmenya lugas namun lembut, membawa nuansa Minang yang adaptif sekaligus mengikat masyarakat pesisir dalam satu identitas “urang Jamee”.




















