Di tengah arus pembangunan yang makin cepat, keberadaan rumoh Aceh mengingatkan bahwa kemajuan tidak harus menghapus jejak kearifan masa lalu. Selama masih ada yang merawat, mempelajari, dan membangunnya kembali, rumoh Aceh akan terus menjadi mercusuar budaya Aceh—menyuarakan harmoni antara manusia, alam, dan tradisi.
Rumoh Aceh dipadukan oleh tiga ruang utama: seuramoe keuë (serambi depan), seuramoe likôt (serambi belakang), dan rumoh inong (ruang tengah). Ketiganya tersusun dalam satu garis lurus, menciptakan alur kehidupan yang merepresentasikan siklus sosial masyarakat. Seuramoe keuë menjadi ruang penerima tamu laki-laki, tempat musyawarah kecil, hingga lokasi kenduri sederhana. Sementara itu, rumoh inong adalah jantung rumah, ruang privat untuk keluarga, dan tempat tersimpannya benda-benda penting. Di bagian paling belakang, seuramoe likôt menjadi lokasi berkumpul keluarga inti, mempersiapkan hidangan, hingga ruang kerja sehari-hari.




















