
Ketika kelompok penyair mulai duduk berbaris rapi, suasana menjadi hening. Para penonton sering kali menunduk hormat ketika bait-bait awal dilantunkan. Suara merdu para perempuan tersebut melenggang saat syair-syair sufi mengalun, membawa pendengar pada suasana yang khidmat namun tetap memikat. Alunan suara itu sering kali diiringi tepukan tangan yang ritmis—tak keras, tak kasar—melainkan lembut dan teratur, seolah menjadi detak dari ruh seni tersebut. Ketepatan ritme inilah yang menjadi ciri khas paling kuat dari Ratep Meuseukat, dan dalam pandangan masyarakat Nagan Raya, ketepatan itu menunjukkan kedisiplinan spiritual para penarinya.




















