Justru melalui kesederhanaannya, Ratep Meuseukat mampu menunjukkan kedalaman makna. Ia tidak hanya mempertontonkan tari, tetapi juga menyampaikan pendidikan moral dan spiritual. Di tangan para perempuan Nagan Raya, seni ini menjadi ruang untuk menjaga identitas budaya, memperkuat kehidupan beragama, serta menyalurkan kehalusan rasa yang telah lama menjadi ciri khas masyarakat Aceh. Melalui setiap penampilan, Ratep Meuseukat membuktikan bahwa tradisi tidak pernah usang—ia hidup selama ada yang menjaga dan merawatnya.
Di Nagan Raya, Ratep Meuseukat memiliki posisi yang sangat spesial. Tidak hanya tampil dalam acara adat, seni ini juga hadir dalam berbagai kegiatan keagamaan seperti peringatan Maulid Nabi, khitanan, kenduri, hingga acara penyambutan tamu. Masyarakat meyakini bahwa lantunan syair yang bersumber dari puji-pujian kepada Allah dan Rasulullah mampu menghadirkan suasana keberkahan, sekaligus menunjukkan bahwa budaya Aceh selalu bersandar pada nilai-nilai Islam. Inilah yang membuat Ratep Meuseukat berbeda dari banyak seni tradisional lainnya: ia bukan sekadar hiburan, melainkan ibadah dalam bentuk lain.




















