Meski tradisi ini terus bertahan, sejumlah pihak berupaya memastikan bahwa keselamatan joki menjadi perhatian utama. Pelatihan, pendampingan, serta pemantauan kesehatan rutin dilakukan untuk meminimalkan risiko. Dengan demikian, pacuan kuda tradisional tetap dapat berlangsung tanpa mengorbankan masa depan anak-anak yang menjadi joki.
Di tengah upaya Aceh memperkuat posisi sebagai daerah yang kaya tradisi, pacuan kuda Gayo berdiri sebagai salah satu simbol paling otentik. Ia bukan sekadar olahraga atau tontonan, melainkan warisan yang mengajarkan keberanian, kesatuan, dan cara hidup yang menghargai alam. Selama masyarakat Gayo terus merawat tradisi ini dengan cinta dan kesadaran budaya, derap kuda di dataran tinggi akan terus bergema—menggaungkan cerita tentang identitas, ketangkasan, dan kebanggaan sebuah komunitas yang tidak pernah kehilangan akar.(Adv)




















