Keunikan pacuan kuda Gayo tidak hanya terletak pada joki tanpa pelana, tetapi juga cara masyarakat memaknai tradisi ini. Bagi sebagian warga, pacuan adalah hiburan. Bagi yang lain, ia adalah sarana pengikat hubungan antar-gampong, semacam pesta rakyat yang melibatkan banyak peran: dari pemilik kuda, pelatih, joki cilik, pedagang, hingga penonton yang datang dari berbagai kabupaten. Arena pacuan berubah menjadi ruang ekonomi. Pedagang makanan, mainan, kain tradisional, hingga kerajinan khas Gayo memenuhi sekitar arena. Kehadiran ribuan orang menciptakan sirkulasi ekonomi yang menghidupkan usaha mikro dan pedagang kaki lima.
Di sisi lain, unsur spiritual dan adat juga tetap melekat kuat. Sebelum perlombaan dimulai, masyarakat biasanya menggelar doa bersama demi keselamatan para joki dan kelancaran acara. Para tokoh adat dan tetua kampung menjadi sosok penting yang memberi restu serta menjaga agar tradisi tetap berjalan sesuai nilai-nilai Gayo. Banyak orang percaya bahwa pacuan kuda bukan sekadar perlombaan cepat-cepatan, tetapi sarana merawat hubungan antara manusia, alam, dan hewan. Kuda dalam budaya Gayo tidak hanya dianggap sebagai peliharaan, melainkan teman perjalanan dan simbol status keluarga.




















