Setiap tahun, terutama pada pagelaran yang bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia atau agenda budaya daerah, arena pacuan kuda di berbagai kecamatan di Aceh Tengah dipenuhi lautan manusia. Suasana itu sudah terasa sejak pagi: denting suara besi tapal kuda, sorakan masyarakat, hingga deretan kuda Gayo yang terkenal lincah dan kecil namun sangat gesit. Para pemilik kuda memperlakukan hewan-hewan ini layaknya anggota keluarga—dirawat dengan penuh disiplin, diberi makanan khusus, dan dipersiapkan secara fisik maupun mental untuk menghadapi arena berbentuk panjang dengan tanah padat yang menjadi saksi ketangkasan mereka.




















