Namun, seperti banyak budaya lokal lainnya, meuleumak juga menghadapi tantangan modernisasi. Gaya hidup yang semakin individualistis, kesibukan kerja, dan perubahan pola interaksi sosial membuat tradisi ini perlahan mulai jarang dilakukan di beberapa daerah. Generasi muda lebih banyak menghabiskan waktu di dunia digital, sementara tradisi kumpul makan yang mengandalkan kehadiran fisik menjadi semakin berkurang. Meski begitu, di banyak gampong, terutama di daerah pedesaan Aceh Besar, Pidie, dan Aceh Utara, tradisi ini tetap hidup, dirawat dengan kesadaran bahwa ia adalah warisan budaya yang memperkuat persatuan.
Kabar baiknya, beberapa komunitas justru mencoba menghidupkan kembali meuleumak sebagai bentuk revitalisasi budaya. Kegiatan meuleumak gampong kini kembali digelar dalam sejumlah acara resmi seperti peringatan hari kemerdekaan, festival adat, atau kegiatan pemuda. Bahkan, di beberapa tempat, meuleumak menjadi bagian dari program wisata budaya yang menarik perhatian wisatawan. Para pengunjung diajak merasakan langsung bagaimana masyarakat Aceh menyambut tamu dengan hidangan yang hangat dan penuh kekeluargaan.




















