Pada hakikatnya, meuleumak merupakan bentuk distribusi kebahagiaan. Setiap keluarga membawa sesuatu untuk dihidangkan, atau tuan rumah menyediakan hidangan khas Aceh mulai dari kuah beulangong, boh rom-rom, hingga penganan tradisional seperti kue adee atau timphan. Namun, inti dari acara ini bukan pada makanan mewah yang disajikan, melainkan keharmonisan yang tercipta ketika warga duduk bersama dalam lingkaran sederhana sambil saling bertukar cerita.
Keistimewaan meuleumak bukan hanya pada kebersamaannya, tetapi juga pada nilai pendidikan sosial yang terkandung di dalamnya. Orang tua Aceh sejak dulu menjadikan tradisi ini sebagai ruang didik bagi anak-anak. Mereka belajar sopan santun, bagaimana menghormati yang lebih tua, serta cara melayani tamu dengan baik. Dalam budaya Aceh, memperlakukan tamu dengan hormat merupakan bagian penting dari karakter masyarakat. Karena itu, anak-anak yang ikut dalam meuleumak secara alami menyerap nilai-nilai tersebut dan membawanya hingga dewasa.




















