Sebelum hidangan disantap, seorang teungku atau imam gampong memimpin pembacaan doa dan ayat suci Al-Qur’an. Doa ini menjadi inti dari ritual Khanduri Blang. Melalui doa tersebut, petani memohon agar Allah SWT memberikan keberkahan, menjauhkan tanaman dari gangguan hama, menjaga ketersediaan air, dan melimpahkan hasil panen. Ini adalah pengakuan bahwa manusia hanya mampu berusaha, sedangkan hasil sepenuhnya ditentukan oleh kehendak-Nya. Bagi masyarakat Aceh, setiap butir padi memiliki nilai keberkahan dan harus diperlakukan dengan penuh rasa syukur.
Nilai yang terkandung dalam Khanduri Blang tidak berhenti pada ritual doa dan makan bersama. Tradisi ini mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan antara sosial dan alam. Di masa lalu, sebelum adanya teknologi dan sistem pertanian modern, Khanduri Blang menjadi forum untuk menyepakati aturan bercocok tanam—mulai dari waktu menanam, pembagian air, hingga larangan menguasai aliran air secara sepihak. Musyawarah yang muncul setelah kenduri menciptakan harmoni sosial serta mencegah konflik antarpemilik sawah. Dengan demikian, Khanduri Blang bukan hanya ritual, tetapi juga mekanisme adat yang menjaga keberlanjutan lingkungan dan keadilan sosial.




















