ADVERTORIAL

DIFTERI: Penyakit Menular yang Tidak Pandang Usia

×

DIFTERI: Penyakit Menular yang Tidak Pandang Usia

Sebarkan artikel ini
Kabid P2P Dinas Kesehatan Aceh dr Iman Murahman[Foto/Is]

Habanusantara.net, Difteri, penyakit menular yang tidak memandang usia, kembali mewarnai peta kesehatan di Provinsi Aceh. Meskipun sering diidentikan dengan anak-anak, kini difteri menunjukkan ketidakdiskriminatifannya, mengancam siapa pun dari segala rentang usia, laki-laki maupun perempuan.

Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diphtheria ini memunculkan gejala serius, termasuk masalah pernapasan dan peradangan tenggorokan. Namun, bahaya sesungguhnya terletak pada kemampuannya menyebabkan pembentukan lapisan abu-abu tebal di area hidung, tenggorokan, lidah, dan saluran udara.

Menurut laman resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, difteri dapat menyebar melalui batuk, bersin, atau bahkan kontak dengan luka terbuka.

Penyakit ini semakin meresahkan karena bakteri penyebabnya mampu merusak organ vital seperti jantung, ginjal, dan otak, berpotensi menimbulkan komplikasi yang mengancam jiwa.

Risiko tertular difteri ternyata tidak hanya berkaitan dengan usia, melainkan juga dengan beberapa faktor lain. Orang yang tinggal di daerah padat penduduk, kondisi kebersihan yang buruk, perjalanan ke wilayah dengan wabah difteri, dan memiliki daya tahan tubuh yang lemah, seperti pada penderita AIDS, lebih rentan terinfeksi.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2P), Dinas Kesehatan Aceh, mengungkapkan bahwa kasus difteri di Aceh mengalami peningkatan dalam lima tahun terakhir. Fokus pada pandemi COVID-19 pada tahun 2020 dan 2021 kemungkinan menyebabkan kurangnya deteksi kasus difteri. Pada tahun 2021, tercatat 17 kasus, meningkat menjadi 30 pada tahun 2022, dan mencapai 33 pada November 2023.

Yang menjadi sorotan adalah tingginya angka kematian akibat difteri.

Meskipun angka kematian rendah pada tahun 2019-2020, pada 2021 dan 2022, masing-masing terdapat satu dan tiga kasus kematian. Hingga November 2023, telah tercatat tiga kematian akibat penyakit ini.

Menariknya, difteri tidak hanya mengancam anak-anak, melainkan juga merebak di kalangan remaja dan dewasa. Penularan yang semakin meluas pada pasien di atas 15 tahun membuktikan bahwa difteri bukan hanya ancaman bagi generasi muda. Ini menjadi perhatian serius, mengingat risiko penularan ke anak-anak balita.

Kabid P2M ini mencatat bahwa peningkatan kasus difteri di Aceh sejalan dengan capaian imunisasi yang rendah, terutama di Kabupaten Pidie.

Data menunjukkan bahwa capaian imunisasi di Pidie merupakan yang terendah se-Aceh, seiring dengan tingginya kasus difteri di wilayah tersebut.

“Penting untuk menyadari bahwa penurunan capaian imunisasi dapat menciptakan celah bagi peningkatan kasus difteri. Upaya perlu dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya vaksinasi sebagai langkah utama dalam melawan difteri dan penyakit menular lainnya,” ujar kabid pencegahan penyakit menular Dinkes Aceh ini

Dalam menghadapi ancaman difteri, upaya pencegahan menjadi langkah utama. Vaksinasi difteri menjadi kunci utama dalam melindungi diri dan orang lain dari penyakit ini.

Masyarakat perlu memahami pentingnya mendapatkan vaksinasi secara lengkap, terutama anak-anak.

Peningkatan kesadaran masyarakat tentang gejala difteri dan langkah-langkah pencegahan, seperti menjaga kebersihan diri dan lingkungan, menjadi kunci untuk mengurangi penyebaran penyakit ini.

Seiring dengan perubahan gaya hidup dan mobilitas masyarakat, upaya bersama dari pemerintah, tenaga medis, dan masyarakat menjadi kunci untuk menjaga kesehatan dan mencegah penyebaran difteri.[Adv]

Follow Berita Habanusantara.net lainnya di Google News
close