Meski zaman terus berubah dan modernisasi merambah ke berbagai aspek kehidupan, tradisi peusijuek tetap bertahan. Generasi muda Aceh mulai menyadari bahwa keberadaan tradisi ini bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi juga refleksi identitas budaya dan nilai spiritual yang tidak lekang oleh waktu. Banyak di antara mereka yang ikut belajar tentang tata cara pelaksanaan peusijuek, memahami makna setiap unsur, serta melestarikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui peusijuek, masyarakat Aceh menunjukkan bahwa adat dan agama dapat berjalan berdampingan secara harmonis. Filosofi “adat bak Poe Teumeureuhom, hukom bak Syiah Kuala” terlihat jelas dalam pelaksanaan tradisi ini: adat memandu bentuk prosesi, sementara Islam memberikan arah makna dan landasan spiritual.




















