Prosesi ini biasanya dipimpin oleh seseorang yang dihormati—baik tokoh adat, teungku, maupun orang tua yang dituakan dalam komunitas. Tokoh tersebut akan menaburkan beras yang telah diberi ramuan ke atas orang atau benda yang di-peusijuek, sambil melafalkan doa-doa yang berisi pujian kepada Allah, permohonan perlindungan, serta harapan kebaikan. Doa yang diucapkan tidak mengandung unsur mistik atau mantra, melainkan sepenuhnya berpijak pada ajaran Islam. Inilah yang menunjukkan bahwa peusijuek adalah hasil akulturasi yang harmonis antara adat Aceh dan nilai-nilai syariat.
Menariknya, peusijuek tidak terbatas pada situasi tertentu saja. Dalam pernikahan, peusijuek menjadi simbol penyatuan dua insan serta dua keluarga yang diharapkan dapat membangun rumah tangga penuh kedamaian. Saat seseorang membeli kendaraan baru, peusijuek dipahami sebagai bentuk permohonan keselamatan dari berbagai risiko perjalanan. Ketika memulai usaha, peusijuek dilakukan untuk memohon kelancaran serta terbukanya pintu rezeki. Bahkan dalam acara menyambut tamu kehormatan, peusijuek digunakan sebagai tanda penghargaan dan harapan agar kehadiran tamu tersebut membawa kebaikan bagi komunitas.




















