Meskipun Aceh telah mengalami arus modernisasi dan komersialisasi ekonomi, mawah tetap bertahan dan justru semakin relevan. Banyak keluarga mengaku bahwa mawah membantu mereka membangun usaha kecil, memperkuat jaringan sosial, dan menciptakan rasa saling ketergantungan yang positif di tingkat komunitas. Dengan perkembangan teknologi, mawah pun memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih jauh. Desa-desa dapat menciptakan sistem pencatatan digital berbasis aplikasi, yang memastikan transparansi, mempermudah perhitungan bagi hasil, serta meningkatkan kepercayaan antar pihak. Inovasi semacam ini memungkinkan mawah menjadi model ekonomi kerakyatan yang adaptif terhadap zaman tanpa kehilangan akar tradisionalnya.
Dengan demikian, mawah bukan hanya warisan budaya masa lalu, tetapi juga peluang masa depan. Praktik ini memperlihatkan bagaimana kearifan lokal mampu membangun sistem ekonomi alternatif yang adil, beretika, dan berkelanjutan. Di tengah dinamika ekonomi global, mawah menjadi contoh bahwa masyarakat dapat membangun kesejahteraan berbasis solidaritas, bukan semata sistem kapitalistik. Inilah kekuatan utama yang membuat mawah tetap hidup dan relevan di pedesaan Aceh hingga hari ini.(Adv)




















