FeaturesWisata

Mawah sebagai Sistem Ekonomi Kerakyatan yang Bertahan di Pedesaan Aceh

×

Mawah sebagai Sistem Ekonomi Kerakyatan yang Bertahan di Pedesaan Aceh

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi

Dalam konteks sosial ekonomi, mawah muncul sebagai jawaban atas masalah klasik di pedesaan: keterbatasan modal. Banyak keluarga memiliki kemampuan merawat ternak, namun tidak sanggup membeli hewan karena harganya relatif tinggi. Mawah membuka akses permodalan tanpa syarat pinjaman, tanpa tekanan pengembalian, tanpa bunga, dan tanpa ancaman risiko kredit. Sistem ini bekerja sepenuhnya berdasarkan kepercayaan, yang dalam bahasa Aceh dikenal sebagai peutamong hate—saling menitipkan hati. Dengan demikian, mawah adalah ekonomi kerakyatan dalam bentuk paling murni, di mana interaksi ekonomi dibangun atas dasar solidaritas, bukan kompetisi agresif.

Keuntungan mawah tidak hanya dirasakan oleh pemelihara, tetapi juga oleh pemilik modal. Pemilik ternak yang mungkin tidak memiliki waktu atau kemampuan untuk memelihara hewan tetap dapat memperoleh hasil ekonomi melalui bagi hasil. Mawah juga mencegah terjadinya penimbunan kekayaan, sebab modal yang dimiliki seseorang diharapkan terus “berputar” melalui tangan orang lain agar menghasilkan manfaat. Sistem ini menciptakan sirkulasi ekonomi lokal yang sehat dan merata, sehingga selaras dengan prinsip pemerataan penghasilan dalam ekonomi kerakyatan.

Follow Berita Habanusantara.net lainnya di Google News
Wisata

Proses pembuatan Timphan bukan sekadar rutinitas memasak. Ia lebih mirip ritual keluarga. Para perempuan, terutama ibu dan nenek, berkumpul sejak pagi untuk menyiapkan bahan-bahan segar. Tepung ketan dicampur dengan pisang…

Wisata

  Bahasa Aceh juga menyimpan kekayaan struktur dan ragam dialek yang menunjukkan luasnya wilayah persebaran masyarakat Aceh. Dialek Aceh Utara dengan pelafalan yang tegas, dialek Aceh Barat yang lembut, serta…

close