Meski telah diakui secara nasional, tantangan pelestarian Langgolek masih besar. Regenerasi menjadi isu paling krusial. Tidak banyak anak muda yang tertarik mempelajari cara melantunkannya, apalagi menghafal kisah-kisah panjang. Dibutuhkan ruang belajar, pelatihan, dan dukungan komunitas agar tradisi ini tidak berhenti pada generasi terakhir.
Digitalisasi konten juga menjadi peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, teknologi bisa membantu dokumentasi; di sisi lain, dinamika dunia digital membuat perhatian publik mudah berpindah. Namun, keunikan Langgolek—dengan narasi mendalam dan ritme lisan yang khas—tetap memiliki magnet bagi mereka yang mencintai tradisi.
Penetapan sebagai WBTb Indonesia 2025 tidak hanya simbol penghargaan, tetapi juga mandat untuk terus merawat tradisi ini. Langgolek adalah cermin identitas masyarakat Susoh, penjaga memori kolektif, sekaligus warisan intelektual yang tak ternilai. Dengan dukungan pemerintah daerah, komunitas budaya, dan generasi muda, Langgolek berpeluang kembali bersinar sebagai seni tutur yang hidup di tengah masyarakat.




















