Salah satu kekayaan utama yang dibawa Langgolek adalah bahasa. Tradisi ini menggunakan dialek lokal Abdya yang khas dan tidak ditemui di daerah Aceh lainnya. Melalui Langgolek, kosakata lama tetap hidup dan terjaga dari kepunahan. Kehadirannya menjadi bukti bahwa identitas linguistik masyarakat bisa terus bertahan ketika medium penyampainya dirawat.
Para pelantun Langgolek dikenal memiliki kemampuan verbal yang kuat. Mereka harus mampu menghafal kisah yang panjang, menjaga alunan suara tetap stabil, dan mengatur tempo agar pendengar terbawa ke dalam suasana cerita. Tidak jarang, pencerita menambahkan improvisasi untuk menyesuaikan dengan situasi sosial kekinian—sebuah bukti bahwa sastra lisan selalu dinamis.
Sebelum ditetapkan sebagai WBTb, keberadaan Langgolek sempat berada di ujung tanduk. Masuknya hiburan digital dan berkurangnya minat generasi muda hampir memutus rantai pewarisan. Hanya beberapa tokoh tua yang masih menguasai teknik penceritaannya. Kekhawatiran itu mendorong komunitas budaya Abdya dan pemerintah daerah bekerja sama menghidupkan kembali tradisi ini.




















